Rabu, 01 Februari 2012

LAPORAN BUDIDAYA TANAMAN SEMUSIM (BTS) JEWAWUT, SORGUM, GANDUM DAN WIJEN


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang   
Pembangunan pertanian tanaman pangan di Indonesia merupakan simbol pembangunan  pertanian nasional yang meliputi padi dan palawija. Namun di lain pihak, pengembangan tanaman serealia lainnya selain padi dan jagung sangat diharapkan untuk menunjang pengembangan diversifikasi pangan sebagai bahan alternatif untuk memenuhi kebutuhan akan pangan non beras. Masalah pangan di Indonesia juga tidak terlepas dari produksi atau penghasil beras dan terigu, di samping bahan pangan lainnya seperti ubi kayu, jagung, kacang tanah, dan sagu. Salah satu alternatif pemecahan masalah kelangkaan bahan pangan, baik terigu maupun beras adalah melalui substitusi atau mengganti dengan tanaman pangan (semusim) yang lain, seperti gandum, jewawut, sorghum, dan wijen. Tanaman semusim utama (gandum, jewawut, sorghum, dan wijen) di Indonesia sebenarnya sudah sejak lama dikenal tetapi pengembangannya tidak sebaik padi dan jagung. Hal ini dikarenakan masih sedikitnya daerah yang memanfaatkan tanaman semusim tersebut sebagai bahan pangan utama, terutama dalam industri maupun konsumsi. Tanaman semusim tersebut mempunyai prospek yang sangat baik untuk dikembangkan secara komersial di Indonesia karena didukung oleh adanya kondisi agroekologis dan ketersediaan lahan yang cukup luas.
Indonesia memiliki sumber daya yang cukup untuk menjamin ketahanan pangan bagi penduduknya. Indikator ketahanan pangan juga menggambarkan kondisi yang cukup baik. Akan tetapi, masih banyak penduduk Indonesia yang belum mendapatkan kebutuhan pangan yang mencukupi. Sekitar tiga puluh persen rumah tangga mengatakan bahwa konsumsi penduduk Indonesia masih berada di bawah kebutuhan konsumsi yang semestinya. Indonesia memproduksi sekitar 31 juta ton beras setiap tahunnya dan mengkonsumsi sedikit di atas tingkat produksi tersebut, dimana impor umumnya kurang dari 7% konsumsi. Lebih dari seperempat anak usia di bawah 5 tahun memiliki berat badan di bawah standar, dimana 8 % berada dalam kondisi sangat buruk. Bahkan sebelum krisis, sekitar 42% anak di bawah umur 5 tahun mengalami gejala terhambatnya pertumbuhan (kerdil), suatu indikator jangka panjang yang cukup baik untuk mengukur kekurangan gizi yang dapat menghambat pertumbuhan anak secara normal.
Di Sulawesi Selatan khususnya, kondisi pertanian juga ikut terkena dampak dari kondisi cuaca atau iklim yang tak menentu. Ini disebabkan karena apabila tiba musim hujan maupun musim kemarau, maka susah untuk diprediksi. Namun, hingga saat ini kondisi cuaca buruk tersebut tidak sampai menganggu kapasitas produksi. Kapasitas dan produksinya masih bagus, baik dari kualitas produksi maupun kuantitas produksi. Pengaruhnya kepada kualitas karena matahari kadang kurang. Kalau berhari-hari gabah tidak dikeringkan bisa berubah warna dan menurunkan kualitas kejernihan. Perubahan cuaca dan iklim yang tidak menentu menyebabkan musim hujan berkepanjangan tidak menurunkan produksi salah satu lumbung pangan Sulawesi Selatan tersebut. Secara kuantitas secara nasional, kegagalan panen akibat cuaca buruk hanya sekitar satu persen sehingga tidak berdampak luas terhadap produksi beras. Pasokan pangan nasional meningkat 1,17 persen, sehingga tersedia pasokan 5,6 juta ton beras hingga akhir tahun. Bulog masih memiliki persediaan beras hingga 1,4 juta ton.
Diversifikasi Pangan sebagai alternatif solusi untuk menangani permasalahan ketahanan maupun produktivitas pangan. Laju pertumbuhan produksi beras dalam delapan tahun terakhir sudah lebih rendah dari periode sebelumnya. Sedangkan terobosan teknologi padi akan sangat terbatas. Sistem komoditi beras sudah tidak dapat lagi diandalkan sebagai sumber pertumbuhan. Selain itu, komoditi ini juga mempunyai kaitan ke industri hilir yang kecil. Sumber pertumbuhan tanaman pangan hanya mungkin melalui diversifikasi tanaman pangan, terutama tanaman semusim. Awal tahun 60-an mulai disadari perlunya diversifikasi tanaman semusim. Adapun yang termasuk dalam kategori tanaman semusim utama atau tanaman semusim pokok yang terkenal di Indonesia antara lain gandum, jewawut, sorghum, dan wijen.
Pengembangan tanaman gandum ditujukan untuk memantapkan daerah-daerah yang sudah biasa menanam gandum, sedang daerah bukaan baru lebih difokuskan kepada sosialisasi dan demplot-demplot agar petani yang ingin mengembangkan tanaman gandum dapat belajar tentang budidaya gandum yang benar. Peningkatan areal tanam gandum ini terus diupayakan melalui pemasyarakatan tanam gandum. Agar tercapainya keberhasilan pengembangan gandum, maka waktu tanam yang tepat, kualitas benih dan pemilihan lokasi seperti ketinggian tempat, suhu atau temperature, iklim yang mendukung, topografi, maupun ketersediaan air dan tanah merupakan faktor penting untuk mengembangkan pertumbuhan tanaman gandum. Masyarakat prasejarah sudah mengenal sifat-sifat gandum dan tanaman biji-bijian lainnya sebagai sumber makanan pokok maupun bahan industri.
Pengembangan tanaman jewawut pertama kali dibudidayakan di antara berbagai jenis millet dan sekarang menjadi millet yang terluas penanamannya di seluruh dunia dan yang terpenting di Asia Timur, terutama di Negara China yang menunjukkan paling tidak tanaman jewawut telah dibudidayakan sekitar 6.000 tahun sebelum Masehi. Pada saat itu, juwawut menjadi satu-satunya tanaman biji-bijian yang dibudidayakan dan bermanfaat sebagai makanan pokok utama. Tanaman Jewawut di Indonesia, misalnya saja di provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Di Sulawesi Selatan, tepatnya di Kabupaten Enrekang, tanaman jewawut yang paling banyak dibudidayakan adalah varietas ketan hitam, emas, delima, dan rambutan. Sedangkan di Sulawesi Barat, tepatnya di Kabupaten Polewali tanaman jewawut yang paling banyak dibudidayakan adalah minna, delima, emas, dan rambutan.
Pengembangan tanaman sorghum sangat potensial untuk diangkat menjadi komoditas agroindustri karena mempunyai beberapa keunggulan seperti dapat tumbuh di lahan kering dan sawah pada musim kering atau kemarau, resiko kegagalan kecil dan pembiayaan (input) usaha taninya relatif rendah. Selain budidaya yang mudah, tanaman sorghum juga mempunyai manfaat yang sangat luas antara lain untuk pakan ternak, bahan baku industri makanan maupun minuman, bahan baku untuk media jamur merang, industri alkohol, bahan baku etanol dan sebagainya. Walaupun sorghum ternyata cocok untuk ditanam di Indonesia dan merupakan tanaman pokok, tetapi tidak termasuk dalam statistik produsen sorghum di dunia karena kecilnya produksi dibandingkan dengan negara penghasil utama sorghum. Di Indonesia, penelitian dan pengembangan sorghum dilaksanakan oleh balai penelitian tanaman sorghum.
Pengembangan tanaman wijen dimanfaatkan sebagai sumber minyak nabati yang dikenal sebagai minyak wijen yang diperoleh dari ekstraksi bijinya. Negara Afrika diduga merupakan daerah asal tumbuhnya tanaman wijen. Pembudidayaan tanaman wijen memerlukan lingkungan atau syarat tumbuh dengan suhu yang cukup tinggi untuk tumbuh. Tanaman ini cukup tahan terhadap kondisi kering, meskipun hasilnya akan turun jika kurang mendapat pengairan. Untuk lahan kering di musim hujan yaitu wilayah yang bercurah hujan pendek, wijen ditanam pada awal musim penghujan agar tanaman tidak mengalami hambatan suhu tanah, ketersediaan air, dan jasad pengganggu. Nilai ekonomis komoditas wijen cukup baik dilihat dari kandungan gizi dengan kadar asam lemak tidak jenuh yang tinggi dan kandungan mineral yang dimiliki. Kebutuhan pasar yang belum tercukupi serta toleran pada lahan kering, maka tanaman ini cukup potensial untuk dikembangkan di lahan kering.
1.2 Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari praktikum budidaya tanaman semusim ini adalah untuk mengetahui perbandingan budidaya dari tanaman pangan, baik dengan sistem guludan (olah tanah) dengan sistem tanpa olah tanah pada tanaman jewawut, sorghum, wijen dan gandum. Selain itu, untuk mengetahui jenis pangan lain yang bisa menggantikan atau mensubstitusi pangan pokok yaitu padi dan jagung dengan sorghum, gandum, jewawut dan wijen.
Kegunaan dari praktikum ini adalah memberikan pengetahuan terhadap mahasiswa tentang teknik atau cara budidaya tanaman pangan atau tanaman semusim serta sebagai bahan informasi dan referensi bagi tentang jenis pangan lain selain pangan yang umum dikonsumsi seperti padi dan jagung.





















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Klasifikasi (Taksonomi) Tanaman
2.1.1. Jewawut (Setaria italica)        
                  Kingdom               : Plantae
Subkingdom          : Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi          : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisi                     : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)
Kelas                     : Moncots
Sub Kelas              : Commelinidae          
Ordo                      :
Poales                                   
Famili                    :
Poaceae (suku rumput-rumputan)                                                    
Up
famili               : Panicoideae                          
Genus                    :
Setaria                                                          
Spesies                  : S
etaria italica

2.1.2. Sorghum (Sorghum bicolor L.)
Kingdom               :Plantae/tumbuhan          
Subkingdom
         :Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi          :Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisi                     :Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)
Kelas                     :Liliopsida (berkeping satu/monokotil)
Sub Kelas              :Commelinidae
Ordo                      :Poales
Famili                    :
Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus                    :Sorghum
Spesies                  :Sorghum bicolor (L.) Moench

2.1.3. Gandum (Triticum spp.)
Kingdom               :  Plantae (tumbuhan)
Divisi                     :  Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)
Kelas                     :  Liliopsida (berkeping satu/monokotil)
Ordo                      :  Poales
Famili                    :  Poaceae
Genus                    :  Triticum L.
Spesies                  :  Triticum spp.

2.1.4. Wijen (Sesamum indicum L.)
Kingdom               : Plantae (tumbuhan)
Sub kingdom         : Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh)
Super divisi           : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisi                     : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)
Kelas                     : Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil)
Sub Kelas              : Asteridae
Ordo                      : Scrophulariales
Famili                    : Pedaliaceae
Genus                    : Sesamum
Spesies                  : Sesamum indicum L.

2.2  Deskripsi Tanaman
2.2.1.  Jewawut (Setaria italica)
Jewawut (Setaria italica) adalah sejenis serealia berbiji kecil/millet yang pernah menjadi makanan pokok masyarakat Asia Timur dan Asia Tenggara sebelum budidaya padi yang dikenal orang. Tumbuhan ini adalah yang pertama kali dibudidayakan di antara berbagai jenis millet dan sekarang menjadi millet yang terluas penanamannya di seluruh dunia dan yang terpenting di Asia Timur. Menurut catatan dari China yang menunjukkan paling tidak jewawut telah dibudidayakan sekitar 6.000 tahun sebelum Masehi. Pada saat itu, jewawut menjadi satu-satunya tanaman biji-bijian yang dibudidayakan di China (Asia Timur). Dari China, tanaman ini kemudian menyebar ke Barat hingga mencapai Eropa pada sekitar milenium kedua sebelum Masehi. Orang Romawi telah mengenal dan membudidayakannya sehingga dikenal pula sebagai “millet Italia”. Di Sulawesi Selatan, tepatnya di Enrekang jewawut yang banyak dibudidayakan adalah varietas ketan hitam, emas, delima, dan rambutan (Anonim, 2010).
 Jewawut mempunyai sistem akar khas Graminae. Biji menghasilkan satu akar seminal atau radikula yang berkembang menjadi akar primer. Akar sekunder atau akar buku muncul pada buku pertama ketika tanaman jewawut telah menghasilkan dua atau tiga helai daun. Akar-akar buku menebal dan dianggap menyediakan sebagian besar saluran untuk pengambilan air, ion, dan sebagai pendukung pertumbuhan tanaman (Goldsworthy dan Fisher, 1984).
Batang tanaman jewawut tegak, beruas-beruas, lampai, dan menyisip dari tunas terbawah. Daun jewawut termasuk daun yang tidak lengkap karena hanya terdiri dari helaian daun saja. Helaian daun ini berbentuk pita/melancip dengan tulang daun sejajar. Permukaan daun kasar karena memiliki bulu halus dan rapat. Daun berseling dan sejajar, tersusun dalam dua baris berhadapan atau searah. Jewawut memiliki bentuk malai seperti bulir yang tersusun relatif rapat dan biji-bijinya yang masak bebas dari lemma dan palea. Tanaman ini termasuk hermaprodit dimana buliran berbentuk menjorong, bunga bawah steril sedangkan bunga atas hermaprodit. Biji bulat telur lebar, melekat pada sekam kelopak dan sekam mahkota, berwarna kuning pucat hingga jingga, merah, coklat atau hitam. Biji jewawut masuk dalam jenis padi-padian kecil termasuk biji kariopsis yang memiliki ukuran yang sangat kecil sekitar 3–4 mm, yang biasanya memiliki warna krem, merah kecoklatan, kuning dan hitam. Biji jewawut terdiri dari perikarp, endosperma dan embrio. Biji bulat telur, melekat pada sekam kelopak dan sekam mahkota, berwarna kuning pucat hingga jingga, merah, coklat atau hitam (Leonard dan Martin, 1988).
Jewawut merupakan tanaman monokotil yang memiliki tipe perkecambahan hypogeal. Dimana terjadi pemanjangan epikotil sehingga plumula menembus kulit biji dan muncul di atas permukaan tanah, sedangkan kotiledon tetap berada di dalam tanah. Penyerbukan  yang dilakukan ialah penyerbukan sendiri. Namun, dapat juga dibantu oleh angin. Bunga jantan dan betina terdapat dalam satu tanaman sehingga proses penyerbukannya tergolong penyerbukan sendiri. Adapun varietas atau spesies dari tanaman jewawut antara lain Pearl millet/jewawut mutiara (Pennisetum glaucum),  Foxtail millet/jewawut ekor kucing (Setaria italica), Proso millet (Panicum miliaceum), Finger millet atau Eleusine coracana (Haruna, 2011).
Jewawut dapat ditanam di daerah semi kering dengan curah hujan kurang dari 125 mm selama masa pertumbuhan yang pada umumnya sekitar 3-4 bulan. Tanaman ini tidak tahan terhadap genangan dan rentan terhadap periode musim kering yang lama. Di daerah tropis, tanaman ini dapat tumbuh pada daerah semi kering sampai ketinggian 2.000 m dpl. Tanaman ini menyukai lahan subur dan dapat tumbuh baik pada bebagai jenis tanah, seperti tanah berpasir hingga tanah liat yang padat, dan bahkan tetap tumbuh pada tanah miskin hara atau tanah pinggiran. Sedangkan pH yang cocok untuk tanaman ini adalah 4-8. (Grubben dan Partohardjono, 1996).
Kandungan gizi tanaman jewawut (setaria italica) yaitu karbohidrat 84,2%, protein 10,7%, lemak 3,3%, serat 1,4%, Ca 37 mg, Fe 6,2 mg, vitamin C 2,5, vitamin B1 0,48, dan vitamin B2 0,14 (Widyaningsih dan Mutholib, 1999).

2.2.2.      Sorghum (Sorghum bicolor L.)
Tanaman sorghum (Sorghum bicolor L.) adalah tanaman sejenis biji-bijian atau serealia yang berasal dari negara Afrika. Tanaman ini sudah lama dikenal manuasia sebagai penghasil pangan dan dibudidayakan di daerah kering seperti di Afrika. Dari benua Afrika kemudian menyebar luas ke daerah tropis dan subtropis. Tanaman ini memiliki adaptasi yang luas, toleran terhadap kekeringan sehingga sorghum menyebar di seluruh dunia. Negara penghasil utama sorghum adalah Amerika, Argentina, China, India, Nigeria, dan beberapa negara Afrika Timur, Yaman dan Australia. Untuk Indonesia sendiri, tanaman sorghum juga menyebar dengan cepat sebab iklimnya yang sangat cocok untuk pembudidayaannya (Anonim, 2010).
Buah sorghum merupakan biji-biji yang tertutup oleh kulit yang liat dan berwarna kekuning-kuningan atau kecoklat-cokelatan. Warna bijinya bervariasi yaitu cokelat muda, putih dan putih buram. Bentuknya juga bermacam-macam, ada yang agak bulat, ada juga yang agak pipih. Berat bijinya adalah 0,45 kg. Biji sorghum sifatnya ada yang keras dan ada yang lunak dengan endosperm berwarna putih. Akar sorghum adalah akar serabut, akar lateral yang halus letaknya agak ke dalam dengan ruang lingkup akar sedalam 1,35-1,8 m, panjang 10,8 m, akar tunjangannya cukup banyak dan keluar dari hampir setiap buku-buku atau ruas-ruas. Fungsinya dapat berubah menjadi akar lateral bila ditimbun dengan tanah. Batang atau cabang sorghum beruas-ruas dan berbuku-buku, tidak bercabang, dapat beranak banyak (memiliki anakan atau tunas di sekitar batang atau cabang) tetapi ada juga yang tidak. Tingginya 1,0-2,5 mm tergantug dari varietasnya. Daun keluar pada setiap buku dan berhadapan dengan aluran. Daunnya tumbuh melekat pada buku-buku atau ruas-ruas, batangnya tumbuh memanjang. Malai muncul atau tumbuh pada pucuk batang, bertangkai panjang tegak lurus, ada pula yang melengkung. Pada setiap buku atau ruas mengeluarkan daun yang berhadapan dengan aluran, daunnya tumbuh melekat pada buku atau ruas batang dan tumbuh memanjang, serta memiliki bagian-bagian daun seperti kelopak daun, lidah daun, helaian daun, dan bentuk daun yang berlapis lilin yang agak tebal dan berwarna putih yang berperan untuk menahan atau mengurangi penguapan air atau tahan kering. Apabila ada cekaman air, daun akan menguning atau menggulung. Tanaman sorghum termasuk tanaman monokotil atau tanaman dengan biji berkeping satu sehingga tipe perkecambahan pada tanaman sorghum adalah hipogeal, yaitu pertumbuhan memanjang dari epikotil yang meyebabkan plumula keluar menembus kulit biji dan muncul di atas tanah. Kotiledon relatif tetap posisinya. Tanaman sorghum tergolong tanaman menyerbuk sendiri secara alami (Soeranto, 2010).
Adapun varietas atau spesies dari tanaman sorghum antara lain varietas Korakola, ICSV 93073, ICSV 111, UPCA S1, dan varietas Lokal. Hasil penelitian dari balai penelitian tanaman pangan menunjukkan bahwa beberapa varietas sorghum biji yang berpotensi tinggi antara lain varietas Malang No. 26 yang berasal dari daerah Lumajang (Jawa Timur), memiliki umur 110-120 hari, memiliki banyak anakan, memiliki rasa yang cukup enak dan biji berwarna cokelat muda. Varietas Birdproff No. 65 merupakan varietas sorghum yang berasal dari Afrika Selatan, berumur 105-115 hari, pertumbuhan yang kuat, habitus tanaman mencapai 1,85 m, tidak memiliki anakan atau tunas, memiliki malai buah dengan tipe agak tertutup, dan rasa agak pahit yang dipengaruhi oleh zat atau senyawa tanin. Varietas Proteria No. 184 yang merupakan sorghum dari Afrika Selatan, berumur 100-105 hari, memiliki pertumbuhan yang kuat, tidak memiliki anakan, tinggi tanaman mencapai 1,4 m, malai buah berbentuk memanjang dan tertutup, berbiji cokelat muda, dan rasa cukup enak. Varietas Katengu No. 183 merupakan sorghum yang berasal dari Afrika Selatan, berumur 105-115 hari, pertumbuhan yang kuat, tidak memiliki anakan, tinggi tanaman mencapai 1,5 m, malai buah agak terbuka, berbiji putih, dan rasa sangat enak atau pulen. Sedangkan sorghum varietas Cempaka (Ekwangit) berasal dari Kenya dan Nairobi (Afrika), berumur 100-110 hari, pertumbuhan yang kuat, tinggi tanaman sekitar 2,0-2,5 m, malai buah agak tegak, biji berwarna putih, dan rasanya kurang enak atau pahit (Jakes Sito, 2010).
Tanaman sorghum ditanam pada awal musim hujan, penentuan waktu tanam yang tepat agar memperhitungkan masa masaknya biji jatuh pada musim kemarau. Hal ini bertujuan untuk menghindari kerusakan pada saat pembungaan dan menghindari serangan cendawan atau jamur. Pengolahan tanah bertujuan untuk menggemburkan tanah, meningkatkan aerasi dan memberantaas gulma. Pengolahan tanah dapat dilakukan dengan memakai cangkul, membajak dengan ternak, traktor atau tanpa olah tanah. Penanaman yang harus dilakukan pada sorghum terdiri dari dua sistem pertanaman, antara lain dengan cara monokultur, diperlukan benih sekitar 10-15 kg/ha, dengan jarak tanam untuk monokultur yaitu 75 x 40 cm: 4 tanaman per lubang dengan 75 x 20 cm: 2 tanaman per lubang. Untuk sistem pertanaman dengan cara tumpangsari, diperlukan benih sekitar 10-15 kg/ha, dengan jarak tanam untuk tumpangsari yaitu stripcropping (1 baris): 200 x 25 cm dan stripcropping (> 2 baris): 75 x 25 x 400 cm. Benih ditanam dengan cara tugal sedalam 4-5 cm (5-12 biji per lubang). Pemupukan dilakukan dengan menggunakan Urea, TSP atau SP36, dan KCl. Pemupukan ditugal di samping kiri dan kanan tanaman dengan jarak 7 cm. Pemupukan dilakukan dua tahap, yaitu 1/3 bagian takaran urea ditambah seluruh TSP dan KCl diberikan pada umur 7-10 hari dan 2/3 bagian urea diberikan pada umur tanaman 21 hari. Tanaman sorghum sangat rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Untuk itu, diperlukan pengendalian hama dan penyakit yang intensif dan mengurangi penggunaan pupuk yang bersifat kimia. Tanaman sorghum lebih banyak permasalahan hama dibanding penyakitnya. Hama dan penyakit yang menyerang tanaman sorghum antara lain lalat bibit (Atherigona soceata), ulat penggerek batang (Basiola fusca), ulat penggerek malai (Crytoblabes gnidiella), hama burung, hama Calandra dan Sytophilus. Pada saat tiba waktu panen, dilakukan setelah biji masak optimal yang ditandai dengan daun mengu­ning, biji pecah apabila digigit. Sorghum dipanen dengan cara memangkas 10-15 cm di bawah malai. Setelah panen dikeringkan agar mudah dalam perontokannya. Perontokan dilakukan dengan cara memukul secara terus menerus sampai biji keluar dari malainya. Dapat digunakan mesin perontok khusus sorghum. Kadar air saat perontokan tidak boleh lebih dari 15% atau kadar yang lebih (Jakes Sito, 2010).
Sorghum dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan pakan ternak, memiliki kandungan nutrisi yang baik bahkan kandungan proteinnya lebih tinggi daripada beras. Kandungan tersebut adalah kalori (332 cal), protein (11,0 g), lemak (3,3 g), karbohidrat (73,0 g), kalsium (28,0 mg), besi (4,4 mg), posfor (287 mg) dan vit B1 (0,38 mg). (Laimehewira Jantje, 1997).
2.2.3. Gandum (Triticum spp.)
Tanaman gandum (Triticum spp.) adalah sekelompok tanaman serealia dari suku padi-padian yang kaya akan karbohidrat dan sumber energi. Gandum biasanya digunakan untuk memproduksi tepung terigu, pakan ternak, ataupun difermentasi untuk menghasilkan alkohol atau etanol. Masyarakat prasejarah sudah mengenal sifat-sifat gandum dan tanaman biji-bijian lainnya sebagai sumber makanan. Berdasarkan penggalian arkeolog, diperkirakan tanaman gandum berasal dari daerah sekitar Laut Merah dan Laut Mediterania, yaitu daerah sekitar Turki, Siria, Irak, dan Iran (Timur Tengah). Sejarah China menunjukkan bahwa budidaya gandum telah ada sejak 2.700 SM  (Anonim, 2010).
Gandum merupakan makanan pokok manusia, pakan ternak dan bahan industri yang mempergunakan karbohidrat sebagai bahan baku. Gandum dapat diklasifikasikan berdasarkan tekstur biji gandum (kernel), warna kulit biji (bran), dan musim tanam. Berdasarkan tekstur kernel, gandum diklasifikasikan menjadi hard, soft, dan durum. Sementara itu, berdasarkan warna bran, gandum diklasifikasikan menjadi red (merah) dan white (putih). Untuk musim tanam, gandum dibagi menjadi winter (musim dingin) dan spring (musim semi). Secara umum, gandum diklasifikasikan menjadi hard wheat, soft wheat dan durum wheat. Varietas atau spesies dari tanaman gandum secara umum antara lain Triticum aestivum (hard wheat), adalah spesies gandum yang paling banyak ditanam di dunia dan banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatan roti karena mempunyai kadar protein yang tinggi. Gandum ini mempunyai ciri-ciri kulit luar berwarna coklat, bijinya keras, dan berdaya serap air tinggi. Setiap bulir terdiri dari dua sampai lima butir gabah. Varietas sorghum Triticum compactum (soft wheat) merupakan spesies yang berbeda dan hanya sedikit ditanam. Setiap bulirnya terdiri dari tiga sampai lima buah, berwarna putih sampai merah, bijinya lunak, berdaya serap air rendah dan berkadar protein rendah. Jenis gandum ini biasanya digunakan untuk membuat biskuit dan kadang-kadang membuat roti. Dan varietas yang lainnya yaitu Triticum durum (durum wheat) yang merupakan jenis gandum yang khusus. Ciri dari gandum ini ialah bagian dalam (endosperma) yang berwarna kuning, bukan putih, seperti jenis gandum pada umumnya dan memiliki biji yang lebih keras, serta memiliki kulit yang berwarna coklat. Gandum jenis ini dapat dimanfaatkan atau digunakan untuk membuat produk-produk pasta, seperti makaroni, spageti, dan produk-produk pasta yang lainnya (Anonim, 2010).
Tanaman gandum termasuk tanaman monokotil atau tanaman dengan biji berkeping satu sehingga tipe perkecambahan pada tanaman gandum adalah hipogeal, yaitu pertumbuhan memanjang dari epikotil yang meyebabkan plumula keluar menembus kulit biji dan muncul di atas tanah. Kotiledon relatif tetap posisinya. Tanaman gandum tergolong tanaman menyerbuk sendiri secara alami karena letak bunga jantan (benang sari) dan bunga betina (putik) tidak terpisah dan tetap dalam satu tempat. Karena tanaman gandum menyerbuk sendiri sehingga penyerbukannya juga dilakukan dengan bantuan angin atau biasa disebut dengan anemogami.
Lingkungan atau syarat tumbuh tanaman gandum antara lain ketinggian tempat penanaman sekitar 400-800 meter dari permukaan laut. Tanaman gandum dapat tumbuh baik dan berproduksi tinggi pada kisaran suhu 10-25 derajat
Celcius, fotoperiodisme yang panjang, bercurah hujan 350-1.250 mm dengan kondisi kering pada masa pemasakan biji, sedang saat pembentukan bunga yang fertil dibutuhkan suhu rendah. Gandum umumnya ditanam pada curah hujan makin menipis selama sekitar sebulan. Selama sebulan, benih itu memperoleh perlakuan khusus dengan siraman air (gembor) sehari semalam penuh, dibiarkan dua hari, dan di hari keempat disiram lagi sehari semalam. Bulan berikutnya mulai perawatan dengan pupuk kimiawi, menyusul pupuk kandang yang sudah ditaburkan pada bedeng sampai umur dua bulan.
Udara yang kering bersuhu rendah akan membuat biji gandum masak
secara sempurna. Gandum potensial untuk dibudidayakan dan dikembangkan, khususnya pada daerah-daerah pinggiran yang kering
(Ilmi Irfan, 2010).
Di Indonesia, tanaman gandum hanya terbatas ditanam di daerah dataran tinggi maupun pegunungan serta pada areal yang tidak begitu luas. Di daerah iklim sedang, gandum ditanam pada musim dingin (winter) dan musim semi (spring). Gandum yang ditanam di Indonesia adalah dari jenis gandum musim semi yang diintroduksi dari Negara Jepang, Filipina dan Meksiko
Gandum adalah bahan pangan paling penting di dunia, dan lebih banyak dibudidayakan pada taraf global daripada tanaman pangan lainnya. Karena itu, telah dilakukan penelitian yang intensif mengenai regenerasi tanaman gandum pada kultur in vitro yang berguna dalam pengembangan tanaman pangan.
Dalam penelitian tersebut disimpulkan bahwa genotip dan  media memiliki pengaruh yang signifikan pada kemampuan regenerasi dari kultivar T.aestivum dan T.durum. Embrio dewasa bagus digunakan sebagai eksplan dalam kultur jaringan gandum. Hal ini pernah dilakukan oleh Ozgen et al., (1996) saat melakukan suatu penelitian dan pengamatan, yaitu telah mempelajari embrio dewasa dan belum dewasa dari tujuh genotip gandum durum musim dingin yang dikulturkan pada media MS (Murashige dan Skoog) yang diperkaya dengan 2,4-D. Dari penelitian yang dilakukan, ditemukan bahwa embrio dewasa memiliki frekuensi rendah untuk pembentukan kallus tetapi mempunyai kapasitas regenerasi yang tinggi dibandingkan dengan embrio yang belum dewasa. Gandum dibagi menjadi tiga kelompok yang berbeda, seperti diploid, tetraploid, dan heksaploid dengan 14, 28 dan 42 kromosom (Irwan, 2007).
Tanaman gandum memiliki morfologi biji. Pada umumnya, kernel berbentuk ofal dengan panjang 6–8 mm dan diameter 2–3 mm. Seperti jenis serealia atau tanaman biji-bijian yang lainnya, gandum memiliki tekstur yang sangat keras. Biji gandum terdiri dari tiga bagian yaitu bagian kulit (bran), bagian endosperma, dan bagian lembaga (germ). Bagian kulit dari biji gandum sebenarnya tidak mudah dipisahkan karena merupakan satu kesatuan dari biji gandum tetapi bagian kulit ini biasanya dapat dipisahkan melalui proses penggilingan, misalnya pada pembuatan tepung terigu (Nurmala, 1980).
Morfologi biji tanaman gandum secara umum terdiri dari Bran atau kulit, merupakan kulit luar gandum dan terdapat sebanyak 14,5% dari total keseluruhan gandum. Bran terdiri dari 5 lapisan yaitu epidermis (3,9%), epikarp (0,9%), endokarp (0,9%), testa (0,6%), dan aleuron (9%). Bran memiliki granulasi lebih besar dibanding pollard, serta memiliki kandungan protein dan kadar serat tinggi sehingga baik dikonsumsi ternak besar. Epidermis merupakan bagian terluar biji gandum, mengandung banyak debu yang apabila terkena air akan menjadi liat dan tidak mudah pecah. Fenomena inilah yang dimanfaatkan pada penggilingan gandum menjadi tepung terigu agar lapisan epidermis yang terdapat pada biji gandum tidak hancur dan mengotori tepung terigu yang dihasilkan. Kebanyakan protein yang terkandung dalam bran adalah protein larut (albumin dan globulin). Endosperma merupakan bagian yang terbesar dari biji gandum (80-83%) yang banyak mengandung protein, pati, dan air. Pada proses penggilingan, bagian inilah yang akan diambil sebanyak-banyaknya untuk diubah menjadi tepung terigu dengan tingkat kehalusan tertentu. Pada bagian ini juga terdapat zat abu yang kandungannya akan semakin kecil jika mendekati inti dan akan semakin besar jika mendekati kulit. Sedangkan Germ atau lembaga terdapat pada biji gandum sebesar 2,5-3%. Lembaga merupakan cadangan makanan yang mengandung banyak lemak dan terdapat bagian yang selnya masih hidup bahkan setelah pemanenan. Di sekeliling bagian yang masih hidup terdapat sedikit molekul glukosa, mineral, protein, dan enzim. Pada kondisi yang baik, akan terjadi perkecambahan yaitu biji gandum akan tumbuh menjadi tanaman gandum yang baru. Perkecambahan merupakan salah satu hal yang harus dihindari pada tahap penyimpanan biji gandum. Perkecambahan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama faktor yang mempengaruhi yaitu faktor eksternal di antaranya kondisi kelembaban yang sangat tinggi, suhu yang relatif hangat maupun kandungan oksigen (O2) yang sangat melimpah (Nurmala, 1980).
Tanaman gandum memiliki manfaat yang sangat berperan penting dalam pembuatan industri makanan, salah satunya adalah dapat dibuat tepung terigu. Tepung terigu adalah tepung atau bubuk halus yang berasal dari bulir gandum, dan digunakan sebagai bahan dasar pembuat kue, mi dan roti. Kata terigu dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa Portugis, trigo, yang berarti "gandum". Tepung terigu mengandung banyak zat pati, yaitu karbohidrat kompleks yang tidak larut dalam air. Tepung terigu juga mengandung protein dalam bentuk gluten, yang berperan dalam menentukan kekenyalan makanan yang terbuat dari bahan terigu. Tepung terigu juga berasal dari gandum, bedanya terigu berasal dari biji gandum yang dihaluskan, sedangkan tepung gandum utuh (whole wheat flour) berasal dari gandum beserta kulit arinya. Tepung terigu terdiri atas tiga macam, antara lain tepung terigu berprotein tinggi (bread flour), adalah tepung yang mengandung kadar protein tinggi antara 11%-13% yang digunakan sebagai bahan pembuat roti, mie, pasta, dan roti donat. Jenis tepung terigu berprotein sedang atau serbaguna (all purpose flour), adalah tepung yang mengandung kadar protein sedang sekitar 8%-10% yang digunakan sebagai bahan pembuat kue cake atau kue tart. Sedangkan jenis tepung terigu yang lain yaitu tepung terigu berprotein rendah (pastry flour), adalah tepung yang mengandung protein sekitar 6%-8% dan umumnya digunakan untuk membuat kue yang renyah, seperti biskuit, kulit gorengan ataupun keripik (Muchtadi dan Sugiyono, 1992).
Kandungan gizi dari gandum antara lain Pastry flour, for example, is sometimes made from soft white winter wheat.mengandung sekitar 12,6 gram protein, 1,5 gram total lemak, 71 gram karbohidrat (adanya perbedaan), 12.2 gram makanan serat, dan 3,2 mg besi (17% dari harian persyaratan), gandum merah keras mengandung sekitar 15,4 gram protein, 1,9 gram total lemak, 68 gram karbohidrat (adanya perbedaan), 12.2 gram makanan serat, dan 3,6 mg besi (20% dari harian kebutuhan).Much of the carbohydrate fraction of wheat is starch . Sebagian besar fraksi karbohidrat gandum pati. Wheat starch is an important commercial product of wheat, but second in economic value to wheat gluten . [ 30 ] The principal parts of wheat flour are gluten and starch.Pati gandum adalah produk komersial yang penting dari gandum, tetapi dalam nilai ekonomi bagi gluten gandum. Bagian-bagian utama dari tepung gandum adalah gluten dan pati.These can be separated in a kind of home experiment, by mixing flour and water to form a small ball of dough, and kneading it gently while rinsing it in a bowl of water. Ini dapat dipisahkan dalam jenis percobaan di rumah, seperti pada pencampuran tepung dan air untuk membentuk bola kecil adonan atau membuat kue, kemudian meremas lembut sambil membilasnya dalam semangkuk air. The starch falls out of the dough and sinks to the bottom of the bowl, leaving behind a ball of gluten.Pati jatuh keluar dari adonan dan tenggelam ke dasar mangkuk, meninggalkan bola gluten (Zufrizal, 2003).
2.2.4        Wijen (Sesamum indicum L.)
              Wijen (Sesamum indicum L. syn. Sesamum orientalis L.) adalah tanaman pangan berupa semak semusim yang termasuk dalam famili Pedaliaceae. Tanaman ini dibudidayakan sebagai sumber minyak nabati yang dikenal sebagai minyak wijen, yang diperoleh dari ekstraksi bijinya. Afrika tropik diduga merupakan daerah asalnya yang kemudian tersebar ke wilayah Timur hingga ke India dan Tiongkok. Di Afrika Barat, ditemukan pula kerabatnya, S. ratiatum Schumach. dan S. alabum Thom., yang di sana dimanfaatkan daunnya sebagai lalapan atau sayuran. S. ratiatum juga mengandung minyak, tetapi mengandung rasa pahit karena tercampur dengan saponin yang juga bersifat racun. Saat ini, wijen ditanam terutama di India, Tiongkok, Mesir, Turki, Sudan, Meksiko dan Venezuela (Anonim, 2010).
                  Tanaman wijen memiliki akar tanaman yang bertipe akar tunggang dengan banyak akar cabang yang sering bersimbiosis dengan mikoriza VA (vesikular-arbuskular). Tanaman mendapat keuntungan dari simbiosis ini dalam memperoleh air dan hara dari tanah. Penampilan morfologinya mudah dipengaruhi oleh lingkungan. Tinggi tanaman bervariasi dari 60 hingga 120 cm, bahkan dapat mencapai 2-3m. Batangnya berkayu dan memiliki ruas-ruas atau buku-buku pada tanaman yang telah dewasa. Daun tunggal, berbentuk lidah memanjang dan berhadapan. Bunga tumbuh dari ketiak daun, biasanya tiga namun hanya satu yang biasanya berkembang dengan baik. Bunga sempurna, kelopak bunga berwarna putih, kuning, merah muda, atau biru violet, tergantung varietas. Dari bunga tumbuh 4-5 kepala sari. Bakal buah terbagi dua ruang, yang lalu terbagi lagi menjadi dua kemudian membentuk polong. Biji terbentuk di dalam ruang-ruang tersebut. Apabila buah masak dan mengering, biji mudah terlepas ke luar, yang menyebabkan penurunan hasil. Melalui pemuliaan, sifat ini telah diperbaiki, sehingga buah tidak mudah pecah ketika mengering. Banyaknya polong per tanaman, sebagai faktor penentu hasil yang penting berkisar dari 40 hingga 400 per tanaman. Bijinya berbentuk seperti buah alpokat (buah wijen berbentuk kapsul), kecil, berwarna putih, kuning, coklat, merah muda, atau hitam. Bobot atau berat biji berkisar antara 1.000 biji 2-6 gram. Tanaman wijen memerlukan suhu yang cukup tinggi untuk tumbuh (asalnya dari daerah tropik). Tanaman ini cukup tahan terhadap kondisi kering, meskipun hasilnya akan turun jika kurang mendapatkan pengairan. Di Indonesia, tanaman wijen tidak terlalu luas ditanam. Di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta, terdapat area penanaman wijen yang tidak terlalu luas (Schuster, 1992).
                  Tipe perkecambahan pada tanaman wijen adalah hypogeal, adalah pertumbuhan memanjang dari epikotil yang meyebabkan plumula keluar menembus kulit biji dan muncul di atas tanah. Kotiledon relatif tetap berada pada posisinya. Tanaman wijen tergolong tanaman yang menyerbuk sendiri sehingga bunganya bersifat hermafrodit, yakni kepala putik diserbuki oleh tepung sari dari bunga yang sama. Tetapi, dapat juga terjadi penyerbukan silang oleh serangga, dan tidak pernah terjadi penyerbukan oleh angin. Lingkungan tumbuh atau syarat tumbuh tanaman wijen memerlukan suhu yang cukup tinggi untuk tumbuh. Tanaman ini cukup tahan terhadap kondisi kering, meskipun hasilnya akan turun jika kurang mendapat pengairan. Untuk lahan kering dimusim hujan yaitu wilayah yang bercurah hujan pendek, wijen ditanam pada awal musim penghujan agar tanaman tidak mengalami hambatan suhu tanah, ketersediaan air, dan jasad pengganggu (Weiss, 1971).
                  Varietas tanaman wijen terbagi ke dalam dua kelompok besar, yaitu varietas bercabang dan varietas tidak bercabang. Pada tahun 1997 telah dilepas 2 (dua) varietas unggul wijen oleh Balai Penelitian Tembakau dan Tanaman Serat (Balittas), yaitu var Sumberejo 1 (Sbr1) produktivitas 1-1,6 ton/ha dan habitus bercabang banyak dan Sumberejo 2 (Sbr2) dengan produktivitas 0,8-1,4 ton/hektar dan habitus tidak bercabang. (Dela SY, 2010).
             Wijen sudah sejak lama ditanam manusia untuk dimanfaatkan bijinya, bahkan termasuk tanaman minyak yang paling tua dikenal dalam peradaban. Kegunaan utama dari tanaman wijen adalah sebagai sumber minyak wijen. Bijinya yang berwarna putih digunakan sebagai penghias pada penganan, misalnya onde-onde dan kue kering dengan cara menaburkannya di permukaan penganan tersebut. Biji wijen dapat dibuat sebagai pasta, misalnya makanan yang dapat diolah menjadi pasta berupa butiran wijen yang ditabur ke spageti maupun macaroni (Schuster, 1992).   
              Kandungan gizi yang terdapat pada biji wijen mengandung 50-53% minyak nabati, 20% protein, 7-8% serat kasar, 15% residu bebas nitrogen, dan 4,5-6,5% abu. Minyak biji wijen kaya akan asam lemak tak jenuh, khususnya asam oleat (C18:1) dan asam linoleat (C18:2, Omega-6), 8-10% asam lemak jenuh, dan sama sekali tidak mengandung asam linolenat. Minyak biji wijen juga kaya akan Vitamin E. Ampas biji wijen (setelah diekstrak minyaknya) menjadi sumber protein dalam pakan ternak (Schuster, 1992).

2.3      Sistem Olah Tanah
Sistem olah tanah yang dapat dimanfaatkan untuk menanam tanaman jewawut, sorghum, gandum, dan wijen terdiri atas tiga metode atau cara, yaitu sistem olah tanah konvensional (yang menggunakan guludan/ bedengan), sistem olah tanah minimum (pada tanah yang subur atau gembur) dan sistem tanpa olah tanah.
2.3.1 Sistem Olah Tanah Konvensional (Guludan atau Bedengan)
Prinsip dari sistem olah tanah konvensional (guludan atau bedengan) adalah mengolah tanah secara keseluruhan, yaitu dengan cara manual dan menggunakan cangkul atau linggis kemudian membongkar dan membalik tanah lalu diratakan. Tanah yang akan ditanami tanaman harus dibersihkan dari tanaman pengganggu seperti gulma. Tanah yang telah bersih kemudian dibentuk guludan atau semacam bedengan dengan saluran drainasenya agar dapat membuang kelebihan air pada musim-musim hujan. Guludan adalah tumpukan tanah yang dibuat memanjang menurut arah garis kontur atau memotong lereng. Tinggi tumpukan tanah sekitar 25–30 cm dengan lebar dasar sekitar 30–40 cm. Jarak antara guludan tergantung pada kecuraman lereng, kepekaan erosi tanah, dan erosivitas hujan. Guludan dapat diperkuat dengan menanam rumput atau tanaman perdu (Chairani, 2010).
Keuntungan dari olah tanah konvensional adalah pertumbuhan tanaman akan subur sebab aliran aerase atau pertuara udara dalam tanah menjadi lancar, pori-pori tanah juga semakin banyak menyerap air dan unsur hara yang diperlukan tanaman. Namun, ada juga kerugian dari pengolahan tanah konvensional yaitu membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak dan penggunaan waktu juga kurang efisien sebab selain membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak juga membutuhkan waktu yang agak lama dibandingkan dengan olah tanah yang lain sebab dalam olah tanah ini, semua permukaan tanah diolah tanpa terkecuali bahkan tanah yang tidak ditanami (Chairani, 2010).
2.3.2 Sistem Olah Tanah Minimum (Pada Tanah Subur atau Gembur)
Pengolahan tanah minimum hanya dapat dilakukan pada tanah yang gembur. Tanah gembur dapat terbentuk sebagai hasil dari penggunaan mulsa secara terus menerus dan atau pemberian pupuk (baik pupuk hijau, pupuk kandang, atau kompos) dari bahan organik yang lain secara terus menerus. Penerapan teknik pengolahan tanah minimum perlu disertai dengan pemberian mulsa. Keuntungan olah tanah minimum adalah menghindari kerusakan struktur tanah, mengurangi aliran permukaan dan erosi, memperlambat proses mineralisasi, mengefisienkan tenaga kerja daripada pengelolaan penuh, dan dapat diterapkan pada lahan-lahan marginal yang jika tidak dengan cara ini mungkin tidak dapat diolah. Kerugian dari olah tanah minimum adalah persiapan bedengan yang kurang memadai dapat menyebabkan pertumbuhan yang kurang baik dan produksi yang rendah, lebih cocok untuk tanah yang gembur, pemberian mulsa perlu dilakukan secara terus menerus, herbisida diperlukan apabila pengendalian tanaman pengganggu tidak dilakukan secara manual atau dilakukan secara mekanis (Chairani,2010).
2.3.3 Sistem Tanpa Olah Tanah
Untuk sistem tanpa olah tanah, juga bisa diterapkan pada tanah-tanah yang subur atau gembur. Sistem tanpa olah tanah merupakan bagian dari konsep olah tanah konservasi yang mengacu kepada suatu sistem olah tanah yang melibatkan pengolahan mulsa tanaman ataupun gulma (tanaman pengganggu). Budidaya pertanian tanpa olah tanah sebetulnya berangkat dari corak pertanian tradisional yang dimodifikasikan, dengan memasukkan unsur kimiawi untuk mengendalikan gulma, dalam hal ini herbisida. Persiapan lahan cukup dilakukan dengan penyemprotan, gulma mulai mati dan mengering, lalu direbahkan selanjutnya dibenamkan dalam lumpur (Nursyamsi, 2004).
Persiapan lahan pada sistem TOT (tanpa olah tanah) dapat dilakukan dengan menggunakan herbisida. Glyfosat merupakan salah satu herbisida yang banyak digunakan untuk mempersiapkan lahan TOT. Aplikasi herbisida pada lahan TOT seringkali menimbulkan adanya pergeseran gulma yang tumbuh berikutnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi  gulma yang tumbuh pada saat persiapan lahan serta untuk membandingkan pengaruh saat aplikasi dan dosis herbisida glyfosat terhadap pergeseran gulma (Nurjanah, 2011).
BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Budidaya Tanaman Semusim ini dilaksanakan pada bulan September-Desember 2011 di lahan percobaan Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar.
3.2 Alat dan Bahan
Adapun alat-alat yang digunakan pada praktikum Budidaya Tanaman Semusim adalah cangkul, sekop, ember, mistar atau meteran, patok, kamera digital, papan nama, dan alat tulis-menulis. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah tali rapia, air, furadan, pupuk kandang dan benih tanaman jewawut (Setaria italica).
3.3 Metode Percobaan
Adapun metode dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.        Bersihkan lahan yang akan ditempati untuk membudidayakan tanaman.
2.        Setelah lahan dibersihkan dari gulma, lahan tersebut dicangkul dan diolah tanahnya. Setiap kelompok memasang patok-patok setelah tanah diolah.
3.        Masing-masing kelompok membudidayakan 1 komoditi. Komoditi yang ditanam pada kelompok ini adalah tanaman jewawut. Dimana lahan yang sudah disiapkan per kelompok tersebut dibagi lagi menjadi 2 bagian masing-masing dengan ukuran tertentu, ada yang menggunakan sistem tanpa olah tanah (pada tanah yang subur atau gembur) dan ada pula yang menggunakan sistem olah tanah (guludan atau bedengan).
4.        Lakukanlah pengamatan setiap minggu, amati tiap perkembangan yang terjadi pada tanaman tersebut. Catat dan ukur tinggi tanaman dengan mistar, jumlah daun, serta ambil gambar komoditi yang ditanam pada tiap minggunya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
   a. Tanaman Jewawut
                DATA PENGUKURAN JEWAWUT KELOMPOK 2
Data Pengamatan Jewawut Olah Tanah Guludan
Data Pengamatan Jewawut Tanpa Olah Tanah
Pengamatan 1
Pengamatan 2
Pengamatan 3
Pengamatan 1
Pengamatan 2
Pengamatan 3
T.tnmn
J.daun
T.tnmn
J.daun
T.tnmn
J.daun
T.tnmn
J.daun
T.tnmn
J.daun
T.tnmn
J.daun
2,4 cm
3 helai
20,1 cm
5 helai
44 cm
4 helai
6 cm
2 helai
13,8 cm
3 helai
40 cm
4 helai
4 cm
3 helai
10,1 cm
4 helai
34 cm
5 helai
4,1 cm
2 helai
18,1 cm
4 helai
35 cm
3 helai
4,2 cm
3 helai
23,2 cm
3 helai
41 cm
4 helai
3,6 cm
2 helai
21,5 cm
5 helai
53 cm
5 helai
3,7 cm
4 helai
23,3 cm
4 helai
36 cm
4 helai
3,6 cm
2 helai
13,6 cm
4 helai
48 cm
7 helai
4 cm
4 helai
20,9 cm
6 helai
47 cm
5 helai
3,3 cm
2 helai
17,6 cm
4 helai
39 cm
6 helai
6,5 cm
4 helai
20,8 cm
6 helai
45 cm
3 helai
5,7 cm
2 helai
25,9 cm
4 helai
45 cm
4 helai
3,9 cm
4 helai
16,2 cm
4 helai
35 cm
3 helai
2,9 cm
2 helai
17,3 cm
2 helai
26 cm
4 helai
3,7 cm
3 helai
9,9 cm
3 helai
53 cm
5 helai
4 cm
3 helai
17,6 cm
4 helai
46 cm
3 helai
4,3 cm
4 helai
14,7 cm
3 helai
37 cm
4 helai
6,4 cm
2 helai
17,3 cm
4 helai
41,2 cm
3 helai
4 cm
3 helai
13 cm
4 helai
35 cm
4 helai
4,3 cm
2 helai
17,5 cm
4 helai
43 cm
5 helai
5 cm
4 helai
 8,5 cm
3 helai
35 cm
3 helai
5 cm
2 helai
12,7 cm
5 helai
27,5 cm
3 helai
3,2 cm
4 helai
13,8 cm
4 helai
56 cm
5 helai
4,9 cm
2 helai
15,6 cm
6 helai
55 cm
6 helai
  2 cm
4 helai
8 cm
4 helai
49 cm
5 helai
3 cm
2 helai
11,4 cm
3 helai
45 cm
4 helai
3,3 cm
3 helai
16,5 cm
4 helai
31 cm
4 helai
2 cm
2 helai
11,6 cm
4 helai
28,6 cm
5 helai
4 cm
3 helai
15,6 cm
4 helai
39,6 cm
5 helai
3,9 cm
4 helai
13,3 cm
3 helai
34 cm
4 helai
4 cm
3 helai
21,4 cm
5 helai
39 cm
4 helai
3,8 cm
3 helai
20,3 cm
4 helai
22,2 cm
4 helai
7,7 cm
4 helai
15,3 cm
3 helai
31,3 cm
3 helai
2,2 cm
3 helai
18,4 cm
4 helai
57 cm
6 helai
2,2 cm
2 helai
12,4 cm
3 helai
35 cm
3 helai
5,6 cm
3 helai
14 cm
4 helai
53,6 cm
6 helai
2,2 cm
3 helai
7,5 cm
3 helai
-
-
2,4 cm
3 helai
20,6 cm
5 helai
46 cm
6 helai
3 cm
3 helai
13,5 cm
4 helai
15,5 cm
3
2,6 cm
3 helai
21 cm
5 helai
58 cm
5 helai
























1 komentar: